Selasa, 08 Mei 2012

Mengenali Tipe Pemimpin Dan Sumber Konflik


4 tipe pemimpin yang bisa menjadi sumber konflik. Pertama, pemimpin yang otoriter. Kedua, pemimpin yang cuek. Ketiga, pemimpin yang selalu mencari kambing hitam. Keempat, pemimpin yang buta warna.

Pertama, pemimpin otoriter akan mendatangkan konflik bila dirinya memaksakan semua kehendaknya. Pemaksaan itu didukung oleh penguasaan atas segala sumber daya utama berupa sumber daya ekonomi, sumber daya logistik, sumber daya informasi, sumber daya manusia dan opini publik dan sumber daya kekuatan senjata. Apalagi bila ada seperangkat undang-undang yang didisain untuk melanggengkan kekuasaannya. Akibatnya, rakyat akan merasa tertindas. Tidak dilindungi. Rakyat hanya perlu bila dibutuhkan dalam saat tertentu. Mereka berharga menjadi objek untuk dikorbankan dan disalahgunakan.


Kedua, pemimpin yang cuek berarti seseorang yang tidak peduli dengan anggotanya. Baginya yang terpenting adalah terjaminnya kekuasaan dan terpenuhinya tatanan kelembagaan. Pemimpin yang cuek dikelilingi oleh anak buah yang ABS, asal bapak senang. Masukan yang diberikannya kepada bos hanyalah yang menyenangkan, bukan fakta sebenarnya. Lingkaran anak buah akan berebut untuk mendekat dengan tujuan mendapatkan sumber daya yang amat langka untuk kepentingannya. Rakyat bawah akan merasakan kekosongan kepemiminan. Secara personal dans secara yuridis ada pemimpin tetapi tidak hadir secara aktual.


Ketiga, pemimpin yang hobinya mencari kambing hitam. Dia memonopoli kebenaran. Tidak pernah dia merasa bersalah. Jadi tidak perlu ada permintaan maaf. Pemimpin tipe ini begitu jeli melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak bisa merefleksikan ke dalam dirinya. Pihak yang menjadi korban biasanya adalah pejabat yang berada paling dekat secara geografis dan secara tugas dengan titik masalah. Atau pihak lain yang lemah yang tidak mungkin memberikan pembelaan karena posisi dan nasibnya sangat tergantung pada kebijaksanaan sang pemimpin. Akibatnya adakan tumbuh subur iklim saling curiga, tidak percaya di antara rakyat dan pemimpin. Hal yang sama juga terjadi pada antar pejabat menengah dengan bawahan.


Keempat, pemimpin yang buta warna. Pemimpin tipe ini tidak bisa membedakan merah, kuning atau hijau. Baginya semua sama, kalau tidak hitam ya putih. Pemimpin tipe ini tidak mengenal rakyatnya sama sekali. Tidak ada interaksi yang membuat aspirasi bawahan ditangkap dan dipahami pemimpin. Akibatnya, rakyat dan pemimpin jalan sendiri-sendiri. Tidak ada koordinasi, tidak ada patokan. Yang ada adalah kepentingan sesaat yang hendak didesakkan kepada pihak-pihak lain.


Dalam negara demokrasi seperti Indonesia, hadirnya pemimpin sumber konflik bisa diminimalkan dengan 3 cara. Pertama, sedapat-dapatnya ada pengaturan yang ketat dan sistematis berlapis-lapis untuk merekrut calon pemimpin. Calon pemimpin tidak boleh otomatis berkompetisi apabila persyaratan itu dipenuhi. Sifatnya dikenali dengan melihat track recordnya dan selanjutnya diklarifikasi secara random kepada para bekas anak buah, rekan sekerja dan atasannya. Faktor utama yang dilihat adalah integritas, kejujuran dan kemampuannya untuk melihat apa yang dirasakan oleh rakyat kecil.


Kedua, kalau dia sudah berkuasa perlu ada kekuatan penyeimbang. Apakah bernama oposisi,  pengawasan dari pihak eksekutif, legislatif, yudikatif dan pers sebagai pilar demokrasi harus ditumbuhsuburkan. Tidak bolah ada monopoli kekuasaan, monopoli informasi apalagi monopoli kebenaran. Dialog, silaturahmi dan acara kebersamaan akan sangat berguna.


Ketiga, kalau efek konflik sudah sedemikian kuat dan meluas perlu kesadaran dari sang pemimpin untuk mengubah diri, mengubah gaya kepemimpinan dan mengubah orang-orang dekat. Selain itu, lembaga-lembaga kenegaraan melaksanakan fungsinya dengan baik dan tegas terutama yang berkaitan dengan pemimpin yang bersangkutan. Kalau pemimpin tidak sadar juga, apa boleh buat masyarakat bolehlah mengawalnya dengan ketat di sekitar istana dan tempat tinggalnya sampai sang pemimpin mendapat pencerahan.

Sumber  : http://politik.kompasiana.com/2012/02/11/mengenali-tipe-pemimpin-sumber-konflik/
            




0 komentar:

Posting Komentar